Pada Kamis, 26 Juni 2025, pukul 10.00 WIB, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan Visiting Lecturer secara daring via Zoom. Kegiatan ini mengusung tema “Service learning in Hong Kong” dengan menghadirkan Mr. Kenneth Lo The Hong Kong Polytechnic University sebagai narasumber utama. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa PPKn dan dirancang untuk memahami ilmu komputer tentang kesenjangan digital dan dampaknya terhadap mobilitas sosial dan kehidupan sehari-hari siswa kami mengabdi pada masyarakat dengan merancang dan memberikan lokakarya STEM untuk anak-anak, untuk membantu mereka memahami tantangan yang dihadapi oleh para tuna netra, dan bagaimana Kecerdasan Buatan dapat diterapkan untuk membantu membuat hidup mereka lebih baik.
Dalam kuliah tamu ini dibahas berbagai jenis proyek layanan yang terbagi menjadi tiga kategori utama. Pertama, layanan langsung yang melibatkan kerja sama langsung dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Proyek jenis ini memberikan manfaat secara langsung kepada penerima layanan, seperti mengajar bahasa Inggris atau membuat alat bantu untuk orang tua. Kedua, layanan tidak langsung yang berupa kegiatan yang memberikan manfaat secara tidak langsung kepada masyarakat atau kelompok kurang mampu, dengan tujuan akhir menciptakan dampak positif. Contoh dari layanan tidak langsung ini adalah mengembangkan proyek penulisan teknis, seperti membuat pengumuman layanan publik, proposal hibah, brosur, poster, buletin, atau situs web untuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ketiga, advokasi yang merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengubah dinamika kekuasaan atau mengatasi akar penyebab kerugian yang dialami oleh kelompok sasaran. Contoh advokasi meliputi menjalankan kampanye kesadaran untuk melarang produk sirip hiu atau mengadvokasi pengelolaan limbah banjir. Dengan demikian, ketiga jenis proyek layanan ini memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi sosial yang berbeda namun saling melengkapi.
Tujuan dari kuliah tamu ini adalah untuk membahas konsep pembelajaran yang melibatkan masyarakat. Istilah ini saat ini cukup populer dan sering digunakan secara bergantian dengan istilah pembelajaran berbasis layanan. Secara umum, pembelajaran yang melibatkan masyarakat dapat didefinisikan secara longgar sebagai pembelajaran yang berlangsung di dalam dan bersama masyarakat. Namun, pembelajaran ini tidak selalu harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat; terkadang, layanan yang diberikan mungkin tidak bermakna atau berdampak secara signifikan. Sebagai contoh, dalam penelitian berbasis masyarakat, siswa melakukan survei di lingkungan sekitar untuk mengumpulkan data guna proyek kelas. Data tersebut mungkin tidak digunakan untuk membantu masyarakat secara langsung, melainkan lebih berfungsi sebagai latihan akademis. Meskipun masyarakat terlibat dalam proses tersebut, mereka mungkin tidak memperoleh manfaat secara langsung. Di sisi lain, pembelajaran berbasis layanan memiliki persyaratan dasar yang lebih ketat, yaitu harus berakar pada dan terintegrasi dengan studi akademis, meliputi layanan yang bermakna untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat, serta memerlukan refleksi kritis yang menantang siswa untuk mempertanyakan dan mengklarifikasi nilai-nilai mereka. Selain itu, pembelajaran ini juga melibatkan penilaian yang ketat terhadap hasil belajar siswa dan harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, yaitu siswa dan masyarakat.
Diharapkan melalui kuliah tamu bertema “Service Learning in Hong Kong” ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Surakarta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pembelajaran layanan di Hong Kong. Dengan mengenal berbagai jenis proyek layanan—baik layanan langsung, tidak langsung, maupun advokasi—mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitas dan kepedulian sosial dalam merancang program pengabdian yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Selain itu, integrasi ilmu komputer, khususnya dalam memahami kesenjangan digital dan penerapan kecerdasan buatan untuk membantu kelompok rentan seperti tuna netra, diharapkan dapat membuka wawasan baru serta mendorong mahasiswa untuk mengaplikasikan teknologi secara bertanggung jawab dalam konteks sosial.
