Pada Jumat, 20 Juni 2025, pukul 14.00 WIB, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan Visiting Lecturer secara daring via Zoom. Kegiatan ini mengusung tema “Is Citizenship Education Becoming Globalized?” dengan menghadirkan Miss Venna Puspita Sari, S.Pd., MA. University of York, United Kingdom sebagai narasumber utama. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa PPKn dan dirancang untuk mengupas tuntas mengenai Pendidikan Kewarganegaraan dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Dalam kuliah tamu ini membahas kewarganegaraan dan identitas bangsa sebagai dua konsep yang saling berkaitan erat dan memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran serta sikap individu terhadap negara dan masyarakatnya. Hubungan antara pendidikan kewarganegaraan dan kebangsaan sangat bervariasi di setiap negara, tergantung pada konteks sejarah, budaya, dan sistem politik yang berlaku. Pendidikan nasional, yang seharusnya menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kewarganegaraan, tidak selalu memberikan pengalaman yang positif bagi semua lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang dan kebijakan pendidikan yang kadang-kadang lebih menguntungkan kelompok tertentu saja, “pendidikan nasional” mencerminkan struktur sosial yang kompleks. Oleh karena itu, memahami hubungan antara kewarganegaraan, bangsa, dan pendidikan nasional memerlukan pendekatan yang mempertimbangkan aspek sosial, politik, dan budaya secara menyeluruh agar pendidikan dapat benar-benar menjadi alat pemberdayaan dan pembentukan identitas nasional yang inklusif.
Tujuan dari kuliah tamu ini adalah untuk membahas secara mendalam bahwa globalisasi merupakan fenomena yang berbeda secara signifikan, baik dalam realitas maupun orientasinya, dibandingkan dengan westernisasi. Pembahasan ini terkait erat dengan perdebatan yang muncul mengenai relativisme dan universalisme dalam konteks hak asasi manusia. Sebagai referensi, kita dapat melihat pemikiran Kymlicka yang menunjukkan adanya jaringan arus pemikiran yang bertentangan dengan model inti-pinggiran. Oleh karena itu, dalam memahami globalisasi, kita harus menghindari perspektif yang sempit dan eksklusif, serta merangkul berbagai bentuk globalisasi yang meliputi aspek ekonomi, politik, budaya, dan perspektif lainnya yang saling terkait. Dengan pendekatan ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan holistik mengenai dinamika globalisasi di era kontemporer.
Dari kuliah tamu ini, diharapkan para peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendidikan yang lebih inklusif dan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat, sehingga nilai-nilai kebangsaan dan kewarganegaraan dapat tertanam secara kuat dan merata. Selain itu, dengan pemahaman yang lebih luas tentang globalisasi diharapkan kita dapat menghindari pandangan yang sempit dan mampu merangkul berbagai dimensi globalisasi.
